Eskalasi militer di Timur Tengah memicu gejolak pasar energi internasional setelah Selat Hormuz mengalami hambatan lalu lintas maritim yang signifikan. Jalur pelayaran ini merupakan urat nadi distribusi minyak bumi dunia yang menyalurkan hampir seperlima pasokan mentah global. Pengetatan pengamanan maritim serta sanksi baru yang diberlakukan pemerintah Amerika Serikat terhadap sektor energi regional memperburuk stabilitas rantai pasok global.
Upaya diplomasi yang digagas sejumlah negara mediator untuk meredakan blokade dan memulihkan arus perdagangan maritim masih menemui jalan buntu. Para analis ekonomi memperingatkan bahwa fluktuasi harga energi di pasar komoditas akan berdampak langsung pada biaya logistik serta tingkat inflasi di negara-negara pengimpor minyak dalam beberapa bulan mendatang.







