PURWOKERTO – Pemanfaatan lahan secara optimal terus dilakukan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Purwokerto melalui kegiatan pertanian di Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE). Pada Selasa (3/11/2026), SAE Lapasto kembali melaksanakan panen sayuran berupa pakcoy, kangkung, dan caisim yang dibudidayakan dengan memanfaatkan lahan yang tersedia secara produktif.
Proses panen dilakukan dengan memetik sayuran yang telah memasuki masa siap panen. Dari kegiatan panen tersebut, diperoleh hasil sebanyak 9,45 kilogram pakcoy, 2,8 kilogram kangkung, dan 4,2 kilogram caisim. Hasil ini menjadi bagian dari upaya mengoptimalkan lahan minimalis agar tetap produktif dan mampu menghasilkan komoditas sayuran yang bermanfaat serta memiliki nilai ekonomi.
Kepala Lapas Kelas IIA Purwokerto, Winarso, menyampaikan bahwa kegiatan pertanian di SAE Lapasto merupakan bagian dari upaya mengoptimalkan lahan sekaligus mengembangkan kegiatan produktif di lingkungan pemasyarakatan. “Melalui kegiatan pertanian ini, kami ingin terus mendorong pengelolaan lahan agar lebih produktif dan menghasilkan komoditas yang memiliki nilai manfaat. Harapannya, kegiatan ini dapat terus berkembang dan memberikan hasil yang berkelanjutan,” ungkap Winarso.
Menariknya, budidaya ketiga jenis sayuran tersebut dilakukan dengan mengutamakan metode pertanian organik tanpa menggunakan pestisida kimia. Sebagai alternatif, perawatan tanaman memanfaatkan pestisida nabati yang berasal dari bahan alami untuk membantu mengendalikan hama tanaman. Penerapan metode ini menjadi salah satu langkah dalam menghasilkan sayuran yang lebih ramah lingkungan.
Kegiatan pertanian di SAE tidak hanya berorientasi pada hasil panen, tetapi juga menjadi bagian dari pembinaan kemandirian warga binaan melalui pengalaman dan keterampilan budidaya tanaman, mulai dari perawatan hingga panen. Melalui kegiatan ini, Lapas Kelas IIA Purwokerto terus mengoptimalkan pemanfaatan lahan dan mengembangkan pertanian produktif. Dengan pengelolaan berkelanjutan, lahan minimalis dapat menghasilkan panen sekaligus menjadi bekal keterampilan bagi warga binaan.











