oleh

Pertamina Hulu Indonesia Zona 9 Buktikan Operasi Migas Tak Hanya Soal Energi, Ini Dampaknya untuk Masyarakat

Kehadiran industri hulu migas di Kalimantan tidak hanya berbicara mengenai produksi energi. Di tengah aktivitas operasi, PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) bersama entitasnya di Zona 9 terus memperkuat keterlibatan masyarakat melalui Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM).

Sepanjang semester pertama 2026, program tersebut telah menjangkau lebih dari 750 penerima manfaat langsung. Pelaksanaannya melibatkan PT Pertamina EP (PEP) Sangatta Field, PEP Sangasanga Field, PEP Tanjung Field, serta PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS).

Program dikembangkan berdasarkan potensi dan kebutuhan masyarakat di sekitar wilayah operasi. Sasarannya cukup luas, mulai dari penguatan ekonomi lokal, pendidikan, kesehatan, lingkungan, infrastruktur hingga penanganan kebencanaan.

General Manager Zona 9, Dadang Soewargono, menilai keberlanjutan operasi hulu migas tidak dapat dilepaskan dari hubungan yang baik dengan masyarakat dan kepedulian terhadap lingkungan.

Menurutnya, masyarakat yang semakin mandiri dan berdaya merupakan bagian penting dari keberlangsungan perusahaan dalam jangka panjang.

“Hubungan yang harmonis dengan masyarakat yang berdaya dan mandiri, serta lingkungan yang lestari akan mendukung keberlanjutan produksi migas perusahaan untuk puluhan tahun yang akan datang,” ujar Dadang.

Ia menegaskan, kegiatan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) melalui PPM tidak diarahkan sekadar menjadi program bantuan. Perusahaan berupaya membangun kapasitas masyarakat agar mampu mengembangkan potensi secara mandiri dan menghasilkan manfaat ekonomi maupun sosial yang berkelanjutan.

Baca Juga  Kanwil Kemenkumham Banten Banten Raih Penghargaan Badan Publik Informatif 2023

Pelaksanaan program tersebut juga menjadi bagian dari penerapan prinsip Good Corporate Governance (GCG) dan Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam kegiatan operasi hulu migas.

Di Zona 9, program PPM mencakup bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, lingkungan, infrastruktur serta penanganan bencana. Seluruhnya diarahkan untuk mendukung pemerintah dalam pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Indonesia.

Potensi Lokal Jadi Kekuatan Ekonomi

Di wilayah operasi PEP Tanjung Field, pemberdayaan ekonomi dilakukan dengan mengembangkan potensi lokal melalui program SEKARA JIRAK, LESTARI Belimbing, BASMA, K-INTEGRA dan Bintang Borneo.

Sejumlah program tersebut melahirkan produk amplang berbahan ikan Haruan yang mampu memberikan keuntungan kelompok hingga 30 persen. Selain itu, program juga mendorong penguatan legalitas usaha, pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai ekonomi, serta peningkatan produktivitas pertanian dan peternakan melalui penguatan kapasitas dan teknologi tepat guna.

Sementara itu, PEP Sangatta Field menjalankan Program Bintang Pertiwi dan ECO-STEP untuk memperkuat perekonomian sekaligus mendorong praktik pertanian berkelanjutan.

Bintang Pertiwi mengembangkan usaha pengolahan jamur, amplang dan hortikultura. Salah satu kelompok penerima manfaat tercatat mampu membukukan penghasilan bersih lebih dari Rp24 juta.

Melalui ECO-STEP, petani didorong menggunakan pupuk semi-organik, mengembangkan hidroponik serta memanfaatkan sumber daya lokal. Program tersebut meningkatkan pendapatan sekitar Rp1 juta hingga Rp2 juta per petani bagi 20 petani penerima manfaat. Biaya produksi melalui penggunaan pupuk NPK juga dapat ditekan hingga sekitar Rp5 juta setiap siklus panen.

Baca Juga  Polres Minahasa Bantu Evakuasi Warga Korban Banjir Papakelan Tondano

Pendidikan dan Kesehatan Tetap Diperkuat

Di PEP Sangasanga Field, program PPM menyentuh pendidikan, kesehatan, lingkungan dan keterampilan.

Sebanyak 165 pelajar mengikuti Kelas Bahasa Inggris Kota Juang Sangasanga, sementara 105 siswa memperoleh edukasi lingkungan melalui Green School Movement. Pada sektor kesehatan, sebanyak 54 balita berisiko stunting memperoleh intervensi gizi melalui Prokesmas Puja.

Perusahaan juga memberikan ruang praktik kepada alumni pelatihan barber. Upaya ini diharapkan membuka jalan agar keterampilan yang telah diperoleh dapat dikembangkan menjadi peluang usaha dan sumber penghasilan.

Sementara PHSS menjalankan PPM di sektor ekonomi, kesehatan, pendidikan, lingkungan dan infrastruktur sosial.

Program tersebut mencakup pengembangan UMKM dan wisata melalui Jagoan Usaha PHSS, peningkatan kapasitas pertanian, perikanan dan peternakan, akses air bersih, layanan kesehatan, fasilitas pendidikan dan Posyandu, hingga pembangunan serta rehabilitasi infrastruktur.

Pendampingan alumni pelatihan barista dan barber juga berlanjut. PHSS turut memperkuat Program BIOKOSMO serta meningkatkan kompetensi masyarakat melalui pelatihan dan sertifikasi.

Kolaborasi Jadi Kunci Keberlanjutan

Manager Communication Relations & CID PHI, Dony Indrawan, mengatakan setiap program PPM dirancang berdasarkan karakteristik dan potensi wilayah sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.

Baca Juga  Warga Mombru Bersama Prajurit Habema Semangat Peringati HUT Kemerdekaan RI

“Setiap tahun, kami berinvestasi pada lebih dari 100 program PPM yang melibatkan masyarakat dan pemerintah daerah di sekitar wilayah operasi perusahaan di Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Selatan,” ungkap Dony.

Menurutnya, kolaborasi antara perusahaan, masyarakat dan pemerintah daerah menjadi faktor penting dalam menjaga keberhasilan program. Pelibatan para pemangku kepentingan dilakukan untuk menciptakan shared value sekaligus memastikan program tidak berhenti setelah kegiatan selesai.

Zona 9 merupakan bagian dari Subholding Upstream Pertamina Regional 3 Kalimantan di bawah PHI. Entitas di wilayah ini berstatus Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang bekerja sama dengan SKK Migas dalam pengelolaan operasi hulu migas di Sanga Sanga dan Sangatta, Kalimantan Timur, serta Tanjung, Kalimantan Selatan.

Di tengah kebutuhan menjaga ketahanan energi nasional, PHI dan entitas Zona 9 terus mendorong inovasi serta pemanfaatan teknologi dengan mengedepankan keselamatan, efisiensi, keandalan, kepatuhan dan kelestarian lingkungan.

Dengan pendekatan tersebut, keberhasilan operasi hulu migas tidak hanya diukur dari produksi energi, tetapi juga dari kemampuan perusahaan menghadirkan nilai tambah bagi masyarakat dan lingkungan. Semangat inilah yang terus dibangun untuk memperkuat kontribusi energi Kalimantan bagi Indonesia melalui #EnergiKalimantanUntukIndonesia.

News Feed