oleh

Persiapan Program Rehabilitasi Narkotika, Lapas Cilegon Seleksi Konselor Rehabilitasi Sosial

Polten.co.id- Memasuki 2023, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Cilegon akan memulai program Rehabilitasi Narkotika bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Untuk menyelenggarakan sesuai dengan standar yang ada, pihak Lapas menyeleksi yayasan konselor adiksi yang akan bermitra.

Kegiatan seleksi tersebut digelar bersama. Khususnya UPT Pemasyarakatan se – Serang Raya. Seleksi yang turut dihadiri Kepapa Divisi Pemasyarakatan ini, digelar di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Serang, pada Selasa (31/01).

Baca Juga  Odekta Atlit BIN Juara Dua Lazada Run 2023

“Siapapun yang lolos nantinya, kami berharap dapat memberikan pelayanan rehabilitasi sosial yang optimal bagi WBP di Lapas Cilegon,” ujar Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Kelas IIA Cilegon, Enjat Lukmanul Hakim saat dikonfirmasi saat menghadiri kegiatan seleksi konselor adiksi.

Dalam sambutannya, Kepala Divisi Pemasyarakatan Banten, Masjuno mengatakan pemilihan konselor harus dilaksanakan dengan lebih selektif demi kegiatan rehabilitasi Narkotika di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) dan Rumah Tahanan (Rutan).

Baca Juga  Dinilai Berkinerja Baik, PWI Anugerahi Penghargaan untuk Pj Bupati Tangerang

“Konselor menjadi roda-roda kegiatan rehabilitasi Pemasyarakatan. Oleh karena itu pemilihan konselor ini menjadi krusial, karena konselorlah yang menjadi penggerak dan penentu kesuksesan kegiatan rehabilitasi di Lapas dan Rutan,” ungkapnya.

Dalam agenda seleksi kali ini, pihak konselor yang hadir untuk mempresentasikan program kerjanya adalah yayasan Wahana Cita Indonesia. Lembaga ini menjadi salah satu yang diseleksi, karena memiliki program Rehabilitasi Medis dan Rehabilitasi Sosial bagi para pengguna Narkoba.

Baca Juga  Duet Akhmad Munir & Atal Depari Resmi Daftar Caketum dan Calon Ketua DK PWI Pusat 2025-2030

Salah satu capaiannya, adalah menginisiasi terbentuk “Forum Diskusi Indonesia Cerdas Napza” (dICerNa) yang memiliki anggota jaringan se-Jawa Bali dan Sumatra serta melibatkan akademisi penggiat LSM dan individual yang peduli dengan isu perubahan Napza yang lebih humanis di Indonesia.(**)

News Feed