oleh

Pariwisata Berbasis Indikasi Geografis Mampu Dongkrak Ekonomi Masyarakat

Ternate – Pengembangan pariwisata berbasis indikasi geografis (IG) menjadi pendekatan strategis untuk memperkenalkan dan mengangkat citra produk lokal unggulan pada setiap daerah termasuk di Maluku Utara (Malut). Kakanwil Kemenkum Malut, Budi Argap Situngkir (BAS) dalam keterangannya mengatakan bahwa indikasi geografis mampu memberikan kontribusi bagi pengembangan ekonomi kreatif daerah melalui pariwisata berbasis IG.

“Pembangunan ekonomi kreatif daerah melalui dukungan pariwisata berbasis indikasi geografis sangat penting, terlebih Maluku Utara memiliki indikasi geografis maupun potensinya yang sangat banyak. Tentu ini membutuhkan sinergi seluruh pihak,” ujar Argap.

Kaitan dengan itu, Kepala Divisi Pelayanan Hukum, Rian Arvin dalam Dialog Interaktif di Radio Republik Indonesia (RRI) Ternate mengungkapkan bahwa indikasi geografis
produk yang karena faktor lingkungan geografis alam, manusia atau kombinasi keduanya, memberikan reputasi, kualitas dan karakteristik tertentu.

Saat ini, kata Rian, terdapat 4 (empat) IG terdaftar yakni Pala Ternate, Pala Dukono, Cengkeh Moloku Kie Raha, Kelapa Bido. Sementara terdapat puluhan potensi IG yang tengah didorong menjadi IG, seperti Duku Bacan, Kopi Liberika, Jeruk Wairoro, Tenun Koloncucu, Kepala Nui Sua, dan ragam lainnya yang tersebar di seluruh wilayah Malut.

Baca Juga  Rutan Surakarta Hadir dalam Pisah Sambut Kepala Kejaksaan Negeri Sukoharjo

“Indikasi geografis tersebut punya reputasi global karena iklim, tanah, dan keahlian petani setempat yang tak bisa ditiru daerah lain.

Dialog yang dimoderatori Presenter, Diah Alesha itu, mengupas lebih jauh tentang kemanfaatan suatu produk indikasi geografis apabila dikaitkan dengan potensi pariwisata.

Kadiv Yankum, Rian mengatakan bahwa produk IG memiliki potensi besar untuk mendukung sektor pariwisata. Keunikan dan kualitas produk dapat menarik wisatawan, meningkatkan ekonomi masyarakat, memperkuat identitas daerah, serta melestarikan budaya dan tradisi lokal. Di antaranya, dapat menjadi daya tarik wisata, dapat menarik wisatawan untuk mengunjungi daerah, meningkatkan pendapatan masyarakat, penjualan produk IG membuka peluang usaha, melestarikan budaya lokal, tradisi dan pengetahuan membantu memperkenalkan dan menjaga warisan budaya daerah.

Baca Juga  Meriahkan HBP ke-62, Lapas Purwokerto Perkuat Tim Kares Banyumas di Porseni Nusakambangan

“Termasuk memperkuat citra daerah di mata internasional dan memperkuat branding destinasi dan identitas wilayah,” terangnya.

Rian juga berbagi pengalamannya bersama jajannya Kemenkum Malut menggelar wisata indikasi geografis. Yakni menjelajah kebun Pala Ternate dan Cengkeh Moloku Kie Raha pekan sebelumnya, dengan melibatkan Masyarakat Pelindungan Indikasi Geografis (MPIG), dan Dinas Perkebunan Ternate. Wisata IG tersebut menjadi ikhtiar untuk mempromosikan IG di Ternate.

“Kita mendorong kesadaran masyarakat dan sinergi pemerintah daerah dan seluruh pihak tentang betapa pentingnya melindungi produk kekayaan intelektual termasuk indikasi geografis. Serta memanfaatkannya dalam pengembangan pariwisata daerah,” lanjutnya.

Kepala Bidang Destinasi Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Provinsi Malut, Kris Syamsuddin mengatakan bahwa Gubernur Malut, Sherly Tjoanda Laos sangat antusias mendorong pengembangan pariwisata termasuk berbasis IG. Gubernur mendorong agar pelindungan produk khas daerah dapat menjadi IG.

Baca Juga  Simak, Berikut Rapor Pengelolaan Aset Daerah Pemprov Banten Dalam IPA 2024 Kemendagri

“Indikasi geografis merupakan sebuah identitas produk lokal yang memiliki kekuatan ikonik dari suatu wilayah, juga memperkuat ekosistem pariwisata dan ekonomi kreatif, yang nantinya meningkatkan nilai ekonomi masyarakat,” terang Kris.

Dirinya memaparkan urgensi wisata berbasis IG mulai hulu hingga hilir. Selain infrastruktur, keterlibatan komunitas rempah, media, dan seluruh pihak sangat penting.

“Saat ini para wisatawan mancanegara maupun nasional memiliki kecenderungan wisata sejarah, budaya, yang semuanya di miliki Maluku Utara. Ini mendatangkan nilai ekonomi, karena pemandu wisata, ibu-ibu pengelola makanan dapat, retribusi parkir bagi daerah semua dapat nilai manfaat. IG tak sekadar produk ikon dari wilayah tertentu. Lebih dari itu, meningkatkan nilai ekonomi dan brand daerah,” pungkasnya.

News Feed