Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) menerima kunjungan 162 siswa penyandang disabilitas dari tujuh Sekolah Luar Biasa (SLB), pada Selasa (16/07/2026). Kunjungan ini merupakan bagian dari program “Istana untuk Anak Sekolah” yang digelar di Aula Hoegeng, Gedung Sekretariat Kabinet, Kompleks Kemensetneg, Jakarta.
Ketujuh sekolah yang berpartisipasi dalam kegiatan ini adalah SLBN 1 Jakarta, SLBN 2 Jakarta, SLBN 6 Jakarta, SLBN 11 Jakarta, SLBN 12 Jakarta, SLB B Pangudi Luhur, serta SLB D-D1 Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Jakarta. Para siswa datang dengan didampingi guru pendamping dari masing-masing sekolah, serta turut didampingi oleh Institusi Disabilitas Indonesia (INDISI) yang mendukung kelancaran jalannya kegiatan.
Dari total 162 siswa yang hadir, terdiri atas siswa dengan disabilitas tunarungu sebanyak 97 orang, disabilitas tunagrahita sebanyak 56 orang, dan disabilitas tuna daksa sebanyak 9 orang. Keberagaman jenis disabilitas tersebut mencerminkan komitmen penyelenggara untuk menghadirkan kegiatan yang ramah dan inklusif, sehingga setiap siswa dapat mengikuti seluruh rangkaian acara dengan nyaman sesuai kebutuhannya.
Dalam membuka rangkaian kegiatan kunjungan, Kepala Biro Hubungan Masyarakat (Humas) Kemensetneg, Faisal Fahmi, menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi kepada para siswa penyandang disabilitas yang telah mengukir berbagai prestasi di bidangnya masing-masing.
Para siswa yang mengikuti kegiatan ini merupakan siswa penyandang disabilitas yang telah meraih berbagai prestasi di bidang olahraga, seni, keterampilan, dan akademik, baik di tingkat provinsi, nasional, maupun internasional. Beragam capaian tersebut mencerminkan semangat belajar, ketekunan, serta potensi yang terus berkembang melalui kesempatan dan dukungan yang
Lebih lanjut Faisal menyampaikan bahwa Presiden memberikan perhatian yang sangat besar terhadap pembangunan sumber daya manusia. “Menurut beliau, pembangunan sumber daya manusia harus membuka ruang, perhatian, dan kesempatan yang setara bagi seluruh anak Indonesia untuk mengembangkan potensi terbaiknya. Semangat tersebut juga diwujudkan melalui berbagai kegiatan di lingkungan Istana Kepresidenan,” ujar Faisal.
“Istana Kepresidenan akan menjadi ruang belajar bagi para pelajar yang berkunjung, semua memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk masuk ke dalam untuk berkunjung, melihat, dan juga merasakan setiap sudut Istana Kepresidenan.” lanjut Faisal saat menyampaikan sambutan.
Ketua Harian INDISI, Citragama Prameswari, pada kesempatan yang sama memberikan ucapan dan terima kasih dengan adanya program “Istana Untuk Anak Sekolah” yang sudah memberikan akses kepada siswa-siswi disabilitas untuk berkunjung ke Istana Kepresidenan.
“Kesempatan yang jauh lebih berarti buat saya karena bisa mengantarkan 162 siswa-siswi disabilitas dari tujuh SLB untuk bisa merasakan langsung datang ke Istana Negara. Bagi kami, Bapak dan Ibu, ini bukan sekadar kunjungan. Ini juga membawa pesan bahwa negara hadir dan pemerintah peduli dengan komunitas disabilitas. Bahwa kita semua memiliki hak yang sama untuk belajar, berkembang, bermimpi, dan nantinya bisa berkontribusi untuk negara.” ujar Citragama.
Sejak awal kegiatan, suasana Aula Hoegeng dipenuhi semangat dan antusiasme para siswa. Peserta mengikuti rangkaian acara dengan penuh sukacita, sembari mendapatkan kesempatan untuk mengenal lebih dekat lingkungan Istana Kepresidenan Jakarta, sebuah tempat yang selama ini identik sebagai pusat penyelenggaraan pemerintahan.
Salah satu peserta, Alwin dari SLB D-D1 YPAC Jakarta, mengungkapkan rasa bahagianya dapat berkunjung ke Istana Kepresidenan Jakarta untuk pertama kalinya melalui Program “Istana Untuk Anak Sekolah”. “Saya merasa senang karena bisa berkunjung ke Istana Negara ini untuk pertama kalinya. Harapannya semoga Indonesia semakin maju, adil dan makmur, terutama untuk kita kaum disabilitas sekalian,” ungkap Alwin.
Abdul Matiin Haqq, Guru SLBN 11 Jakarta, mengaku sangat senang dan bangga para siswanya mendapat kesempatan mengunjungi Istana Negara. Menurutnya, kesempatan seperti ini sangat berarti bagi peserta didik.
“Kita mendapatkan banyak cerita inspiratif bahwa teman-teman penyandang disabilitas dapat bekerja di berbagai bidang yang mungkin sebelumnya belum terbayangkan. Ternyata, banyak kesempatan yang terbuka. Untuk teman-teman penyandang disabilitas, jangan takut untuk bermimpi. Harapannya, ke depan akan semakin banyak dunia industri yang berkolaborasi dengan sekolah-sekolah sehingga semakin terbuka peluang bagi penyandang disabilitas,” ucap Abdul Matiin Haqq.
Dengan menghadirkan ruang yang ramah dan inklusif, kegiatan “Istana Untuk Anak Sekolah” ini diharapkan dapat mendorong semakin banyak anak penyandang disabilitas untuk terus belajar, bermimpi, dan berpartisipasi aktif sebagai bagian dari generasi penerus bangsa. Program ini juga menjadi pengingat bahwa inklusivitas bukan sekadar slogan, melainkan sesuatu yang dapat diwujudkan melalui langkah-langkah konkret, termasuk membuka akses seluas-luasnya bagi kelompok disabilitas terhadap fasilitas dan program-program kenegaraan. (NVT/ART – Humas Kemensetneg)











