Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) harus menjadi sarana untuk memperkuat martabat manusia, bukan menggantikannya. Pesan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam Sidang Pleno XII Federation of Asian Bishops’ Conferences (FABC) 2026, terutama dalam merespons tantangan yang dihadapi generasi muda di era digital.
Wakil Presiden FABC sekaligus Uskup Kalookan, Filipina, Kardinal Pablo Virgilio David, mengatakan Gereja memandang AI sebagai hasil kreativitas manusia yang dapat membawa manfaat besar apabila digunakan secara bijaksana.
“Kami mengacu pada ensiklik (surat edaran resmi) terbaru Paus Leo XIV, Magnifica Humanitas, yang menegaskan pentingnya menjaga martabat manusia di tengah revolusi digital. AI pada dasarnya bersifat netral. Nilai moralnya ditentukan oleh bagaimana manusia menggunakannya,” ujar Kardinal Pablo di Gereja Katedral, Jakarta, Minggu (26/7/2026).
Menurutnya, teknologi dapat menjadi kekuatan yang membawa manfaat luas, misalnya mendukung layanan kesehatan, mempercepat pengolahan data, maupun mempermudah komunikasi lintas bahasa. Namun, pada saat yang sama AI juga dapat disalahgunakan untuk penyebaran disinformasi, propaganda, maupun berbagai bentuk penipuan digital.
“Karena itu, pertanyaan yang paling penting bukanlah seberapa canggih AI, melainkan apakah teknologi tersebut membuat kita menjadi lebih manusiawi (more human),” katanya.
Kardinal Pablo menegaskan Gereja tidak memandang AI sebagai ancaman. Sebaliknya, yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk menggunakan teknologi secara arif sehingga tetap berpihak pada kesejahteraan manusia.
Ia mencontohkan bahwa kreativitas manusia tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh mesin. Karya seni yang lahir dari pengalaman, kepekaan, dan budaya, seperti batik, tetap memiliki nilai yang tidak bisa direplikasi sepenuhnya oleh kecerdasan buatan.
“AI diciptakan untuk membantu manusia, bukan untuk ditakuti. Kreativitas, pengalaman hidup, dan sentuhan kemanusiaan tetap menjadi sesuatu yang khas milik manusia,” ujarnya.
Menurut Kardinal Pablo, AI memang mampu mempercepat berbagai pekerjaan, mulai dari analisis data hingga penerjemahan bahasa. Namun, teknologi tersebut tidak memiliki hati nurani.
“Refleksi spiritual, khotbah, kebijaksanaan hidup, hingga relasi antarmanusia tetap harus lahir dari hati dan pengalaman manusia sendiri. AI tidak memiliki nurani untuk menggantikan itu,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya membekali generasi muda dengan kemampuan memilah informasi (discernment) di tengah derasnya arus teknologi digital. Sikap kritis dan bijaksana dinilai menjadi bekal utama agar AI benar-benar dimanfaatkan untuk kebaikan bersama.
Sejalan dengan semangat ensiklik Magnifica Humanitas, FABC menilai bahwa kemajuan teknologi harus selalu diarahkan untuk menjaga martabat manusia, memperkuat solidaritas, serta membantu generasi muda bertumbuh menjadi pribadi yang semakin manusiawi di tengah perubahan zaman.











