oleh

Dari Olahan Biji Kedelai, Warga Binaan Lapas Kelas I Tangerang Tangerang Belajar Menata Masa Depan

POLTEN.CO.ID-Biji-biji kedelai itu mula-mula dipilah. Yang tidak memenuhi kualitas dipisahkan, sementara kedelai yang baik dicuci dan diolah melalui sejumlah tahapan. Dari perendaman, perebusan, hingga pemberian ragi, seluruh proses dilakukan dengan ketelitian sebelum akhirnya kedelai bertransformasi menjadi tempe.

Namun, di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Tangerang, proses tersebut tidak berhenti pada bagaimana menghasilkan sebuah produk. Setiap tahap menjadi kesempatan bagi Warga Binaan untuk belajar bekerja secara disiplin, menjaga kualitas, bertanggung jawab terhadap tugas, serta memahami bahwa hasil yang baik membutuhkan proses yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh.

Sebanyak empat orang Warga Binaan terlibat aktif dalam kegiatan produksi tempe mentah yang dikembangkan Lapas Kelas I Tangerang sebagai bagian dari program pembinaan kemandirian, Selasa (15/9). Mereka mengikuti proses produksi sejak awal, mulai dari pemilahan biji kedelai, pencucian, perendaman, perebusan hingga pengolahan dan pemberian ragi sebelum memasuki tahap fermentasi.

Kepala Bidang Kegiatan Kerja Lapas Kelas I Tangerang, Imam Fahmi, mengatakan kegiatan kemandirian perlu memberikan pengalaman yang dapat dirasakan manfaatnya oleh Warga Binaan, bukan sekadar menjadi aktivitas selama menjalani masa pidana.

Baca Juga  Penyaluran Bansos Dihentikan Menjelang Pemungutan Suara Pilkada

“Yang ingin kami bangun melalui kegiatan ini bukan sekadar kemampuan membuat tempe. Lebih dari itu, kami ingin Warga Binaan merasakan bahwa mereka masih memiliki kesempatan untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Ketika mereka diberi kepercayaan untuk bekerja, menjaga kualitas, dan menyelesaikan sebuah produk dari awal sampai akhir, di situlah tumbuh rasa tanggung jawab dan kepercayaan diri. Harapannya, pengalaman tersebut menjadi bekal ketika mereka kembali ke masyarakat,” ujar Imam.

Produksi tempe mentah bukan hal baru bagi Lapas Kelas I Tangerang. Tempe hasil karya Warga Binaan sebelumnya telah ikut memenuhi kebutuhan internal dan disalurkan untuk mendukung kebutuhan sejumlah UPT Pemasyarakatan di wilayah Tangerang Raya. Kegiatan produksi ini pun terus berjalan hingga kini sebagai salah satu kegiatan kerja produktif Warga Binaan, berdampingan dengan berbagai bidang lainnya yang telah berjalan di Lapas, seperti Jawara Beton.

Baca Juga  Mengenang Jasa Parah Pahlawan Revolusi, Lapas Cilegon Gelar Upacara Peringati Hari Kesaktian Pancasila

Melalui beragam bidang tersebut, Warga Binaan tidak hanya belajar menghasilkan produk, tetapi juga mengenal proses kerja, menjaga kualitas, dan menyelesaikan tanggung jawab yang diberikan. Ke depan, produksi tempe diharapkan dapat berjalan secara konsisten dan kembali mendukung kebutuhan UPT Pemasyarakatan di Tangerang Raya, sekaligus menjadi pengalaman yang dapat dibawa sebagai bekal untuk bekerja dan hidup lebih mandiri setelah kembali ke masyarakat.

Pembina bengkel kegiatan kerja, Ridho Nurcahyo, menilai pengalaman tersebut penting karena keterampilan kerja tidak hanya diukur dari kemampuan menghasilkan produk.

“Kami ingin Warga Binaan memahami bahwa bekerja juga berarti menjaga kepercayaan yang diberikan kepada mereka. Dalam membuat tempe, mereka belajar bahwa kualitas membutuhkan kedisiplinan, kebersihan, ketelitian, dan kesabaran. Kebiasaan seperti itu yang nantinya mereka butuhkan ketika kembali bekerja dan berinteraksi di tengah masyarakat,” jelas Ridho.

Baca Juga  Lapas Cilegon Ikuti Gowes Sehat HDKD Ke-77 Kemenkumham RI

Bagi Warga Binaan, kesempatan tersebut menjadi ruang untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah bebas. Salah seorang Warga Binaan, Fa, mengaku kegiatan produksi membuatnya memiliki pengalaman baru sekaligus keyakinan bahwa dirinya masih dapat berkembang.

“Di sini kami diberi kesempatan untuk belajar, bekerja, menghasilkan sesuatu yang bermanfaat, dan bertanggung jawab atas pekerjaan sendiri. Saya berharap pengalaman ini bisa saya bawa setelah bebas, sehingga saya punya keterampilan, sikap yang lebih baik, dan kepercayaan diri untuk kembali menjalani kehidupan di masyarakat,” tutur Fa.

Pada akhirnya, keterampilan yang dipelajari di Lapas diharapkan memiliki manfaat yang lebih jauh dari sekadar menghasilkan sebuah produk. Pengalaman bekerja, memahami proses, menjaga kualitas, dan menyelesaikan tanggung jawab menjadi bekal yang dapat dibawa Warga Binaan ketika kembali ke masyarakat, baik untuk mencari pekerjaan maupun membuka peluang usaha sehingga mereka memiliki kesempatan membangun kehidupan yang lebih mandiri.(Red)

News Feed