POLTEN.CO.ID- Sebuah potongan kayu dapat memiliki fungsi baru ketika diolah dengan keterampilan dan ketelitian. Hal itu terlihat dalam kegiatan pembinaan kemandirian di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Tangerang. Warga Binaan memanfaatkan keterampilan pengolahan kayu untuk membuat rak dinding yang dapat digunakan sebagai tempat penyimpanan sekaligus menjadi bagian dari dekorasi ruangan, Kamis (27/8).
Proses pembuatan dilakukan langsung oleh Warga Binaan, mulai dari pemilihan bahan, pengukuran, pemotongan, perakitan, hingga penghalusan dan penyelesaian akhir. Setiap tahap dikerjakan dengan cermat untuk memastikan ukuran tepat, sambungan kuat, dan hasil akhir rapih. Selama proses berlangsung, petugas turut memberikan pendampingan agar keterampilan yang dipelajari dapat diterapkan dengan baik.
Kegiatan tersebut menjadi sarana bagi Warga Binaan untuk belajar melalui praktek. Selain keterampilan teknis mengolah kayu, mereka juga dilatih untuk bekerja secara teliti, disiplin, dan bertanggung jawab hingga menyelesaikan produk. Pengalaman ini diharapkan dapat menjadi bekal keterampilan yang bermanfaat ketika kembali ke masyarakat.
Kepala Seksi Pengelolaan Hasil Kerja Lapas Kelas I Tangerang, Aldri Maitaruna, mengatakan pembinaan kemandirian tidak hanya berorientasi pada hasil produk, tetapi juga pada kemampuan dan sikap kerja yang terbentuk selama prosesnya.
“Kami ingin keterampilan yang dipelajari Warga Binaan benar-benar menjadi bekal, bukan sekadar kegiatan untuk mengisi waktu. Dalam proses membuat rak ini, mereka belajar dari hal-hal sederhana, seperti mengukur dengan tepat, bekerja dengan teliti, sampai menyelesaikan pekerjaan sesuai tanggung jawabnya. Ketika keterampilan itu terus dilatih, kami berharap nantinya mereka memiliki kemampuan yang bisa dikembangkan dan dimanfaatkan setelah kembali ke masyarakat,” ujar Aldri.
Menurutnya, keterampilan pengolahan kayu masih memiliki peluang untuk dikembangkan ke berbagai jenis produk sesuai kebutuhan. Karena itu, kegiatan ini terus didorong agar Warga Binaan tidak hanya mampu membuat produk, tetapi juga memiliki pengalaman kerja yang dapat dikembangkan secara mandiri.
Salah seorang Warga Binaan yang terlibat mengungkapkan bahwa proses pembuatan produk tersebut memberinya pengalaman berharga, sekaligus menyadarkan bahwa keterampilan tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui latihan, ketelitian, dan kesabaran.
“Saya belajar banyak dari proses ini, terutama bagaimana bekerja dengan teliti dan sabar. Ada rasa bangga ketika melihat kayu yang saya kerjakan akhirnya menjadi sebuah rak yang bisa digunakan. Semoga keterampilan ini bisa terus saya kembangkan dan menjadi bekal untuk bekerja serta hidup mandiri ketika kembali ke masyarakat,” ungkap Ro.
Rak dinding yang dihasilkan menjadi salah satu gambaran bahwa pembinaan kemandirian dapat berjalan melalui proses yang sederhana, tetapi memberikan pengalaman yang berarti. Dari setiap tahapan pengerjaan, Warga Binaan tidak hanya menghasilkan sebuah produk, tetapi juga membangun keterampilan dan kebiasaan kerja yang dapat dibawa setelah menyelesaikan masa pidana.
Melalui pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan, Lapas Kelas I Tangerang terus membuka ruang bagi Warga Binaan untuk belajar, berkarya, dan meningkatkan kemandirian. Setiap karya yang dihasilkan diharapkan menjadi bagian dari proses perubahan yang membekali mereka dengan keterampilan untuk kembali produktif dan berdaya di tengah masyarakat.(Red).











