Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa pemerintah telah memutuskan dan menjalankan 121 kebijakan transformatif selama 21 bulan pemerintahan. Hal tersebut disampaikan Presiden dalam Pidato Kenegaraan pada Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) dan Sidang Bersama Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) dan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) di Ruang Rapat Paripurna Gedung Nusantara MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, Jumat (14/8/2026). Sidang Tahunan ini merupakan rangkaian kegiatan dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
“Hari ini, 21 bulan sejak sumpah itu saya ucapkan, saya kembali ke hadapan Majelis ini. Saya kembali untuk menyampaikan apa yang telah kita kerjakan, apa yang mulai kita lihat hasilnya, dan apa yang masih harus kita selesaikan,” kata Presiden Prabowo dalam pidatonya.
Presiden menyampaikan bahwa selama 21 bulan, pemerintahan yang ia pimpin bekerja berdasarkan empat pedoman utama, yaitu menjalankan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, menjaga dan melindungi kepentingan nasional yang vital, mengatasi kesulitan rakyat dalam waktu sesingkat-singkatnya, serta berorientasi pada kepentingan rakyat dan generasi penerus.
Dalam waktu kurang dari dua tahun, imbuhnya, pemerintah telah membuktikan bahwa keberanian mengambil keputusan, kerja keras, dan gotong royong dapat mulai menyelesaikan berbagai persoalan yang selama puluhan tahun belum terselesaikan.
“Dalam 21 bulan, tepatnya 663 hari sampai hari ini, pemerintah yang saya pimpin telah memutuskan dan menjalankan 121 kebijakan-kebijakan transformatif untuk menyelesaikan masalah-masalah negara,” ujar Presiden.
Salah satu capaian paling monumental, ungkap Presiden, adalah keberhasilan mencatatkan swasembada pangan dalam waktu 1 tahun, jauh lebih cepat dari target awal yang dirancang selama 4 tahun. Ia menyebutkan pemerintah menghapuskan 145 aturan birokrasi penyaluran pupuk. Hal itu berhasil menurunkan harga pupuk sebesar 20 persen dan mendorong kenaikan laba PT Pupuk Indonesia hingga 252,8 persen.
Selain itu, tahun ini Indonesia resmi swasembada pada delapan komoditas utama, yaitu beras, jagung, gula konsumsi, daging ayam, telur ayam, bawang merah, cabai besar, dan cabai rawit. Kemudian pada sektor energi, Presiden menyampaikan bahwa pemerintah berhasil mewujudkan swasembada bahan bakar minyak jenis solar melalui produksi diesel berbasis B50. Sejak 1 Juli 2026, Indonesia tidak lagi mengimpor solar dari luar negeri dan berhasil menghemat devisa sekitar Rp170 triliun atau sekitar USD9,5 miliar.
Presiden menegaskan komitmen untuk terus bekerja keras mewujudkan cita-cita 81 tahun kemerdekaan Indonesia: sebuah negara yang berdaulat, adil, dan makmur.
“Sekali lagi, ini bukan alasan untuk berpuas diri. Ini rangsangan untuk kita bekerja lebih keras lagi. Karena kita sadari kemerdekaan bukan hanya apa yang kita proklamasikan. Kemerdekaan adalah apa yang dirasakan rakyat,” pungkas Presiden. (Humas Kemensetneg)

