Tangerang – Suasana penuh kehangatan dan kebersamaan terasa di Aula Lapas Perempuan Kelas IIA Tangerang saat Perayaan Imlek dilaksanakan bersama Perkumpulan Wanita Buddhis Indonesia (WBI). Kegiatan ini menjadi momen istimewa karena untuk pertama kalinya tradisi makan bersama menjelang Imlek digelar di lingkungan lapas.
Kegiatan diawali dengan doa bersama sebagai bentuk ungkapan syukur serta harapan akan kedamaian dan kebaikan di tahun yang baru.
Selanjutnya, Ketua Wanita Buddhis Indonesia (WBI), Lucy Salim, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur dan kebahagiaan karena dapat hadir dan berkumpul bersama warga binaan. Ia menjelaskan bahwa tradisi makan bersama sebelum Imlek memiliki makna persatuan.
“Tradisi makan bersama sebelum Imlek artinya bersatu. Tidak mesti agama tertentu, tetapi semua agama menyatu dalam kebersamaan. Ini pertama kalinya kegiatan makan bersama Imlek dilaksanakan di lapas. Kami dari Wanita Buddhis Indonesia sangat berterima kasih karena hari ini bisa berkumpul dan makan bersama,” ujarnya.
Lucy Salim juga menyampaikan apresiasi khusus kepada Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Tangerang. “Terima kasih Ibu Kalapas, tanpa Ibu kegiatan ini tidak akan terlaksana. Semoga Bapak dan Ibu semua dapat menikmati makanan yang kami sajikan,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Tangerang, Salis Farida Fitriani, turut menyampaikan sambutan. Ia mengucapkan terima kasih kepada Wanita Buddhis Indonesia atas perhatian dan kepeduliannya kepada warga binaan.
“Kami mengucapkan terima kasih karena warga binaan di sini telah diperhatikan. Semoga kebersamaan hari ini membawa sukacita dan semangat baru. Selamat Tahun Baru Imlek,” ucapnya.
Sambutan juga disampaikan oleh Pembimbing Kemasyarakatan Buddha. Dalam pesannya, ia memberikan motivasi kepada warga binaan agar tidak pernah merasa sendirian.
“Jangan pernah merasa sendirian. Masa lalu adalah pelajaran. Kita semua masih memiliki masa depan yang lebih bermakna. Hidup selalu memberi kesempatan. Mudah-mudahan tumbuh semangat persaudaraan di antara kita,” pesannya.
Ia juga menghaturkan terima kasih kepada Kepala Lapas yang telah memberikan waktu dan tempat sehingga pembinaan keagamaan dapat terus dilaksanakan dengan baik.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah dan makan bersama. Suasana keakraban terlihat jelas ketika warga binaan, petugas, dan tamu undangan menikmati hidangan secara bersama-sama dalam nuansa penuh kekeluargaan.
Perayaan Imlek ini tidak hanya menjadi momentum peringatan tahun baru, tetapi juga menjadi simbol persatuan, toleransi, serta harapan baru bagi seluruh warga binaan untuk menata masa depan yang lebih baik.

