oleh

Dari Istana, Menag Panjatkan Empat Harapan dalam Doa HUT ke-81 RI

Doa Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Merdeka, tidak berhenti pada ungkapan syukur atas kemerdekaan. Di hadapan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Menag menyampaikan rangkaian harapan yang mencerminkan empat pesan utama: syukur, kerukunan, ketakwaan, dan prestasi.

Empat pesan itu mengalir dalam doa yang dimulai dari refleksi atas kemerdekaan, berlanjut pada ikhtiar menjaga persatuan, penguatan moral dalam menghadapi tantangan, hingga cita-cita menjadikan Indonesia sebagai negeri yang indah, tentram, dan penuh keberkahan.

Pertama, syukur atas kemerdekaan.

Menag membuka doanya dengan ungkapan syukur atas 81 tahun perjalanan bangsa Indonesia. Kemerdekaan disebut sebagai anugerah yang diraih dengan restu dan pertolongan Allah SWT.

“Kiranya rangkaian acara proklamasi kemerdekaan ini menjadi tanda syukur akan kemerdekaan yang Engkau anugerahkan kepada bangsa kami,” ujarnya di Jakarta, Senin (17/8/2026).

Namun, syukur dalam doa tersebut tidak ditempatkan sebagai sikap yang berhenti pada perayaan. Menag langsung mengaitkannya dengan tanggung jawab untuk mengisi kemerdekaan.

Baca Juga  Danramil 0602-02/Kasemen Bersama Lurah Bendung, Letakkan Batu Pertama Perehaban Rutilahu Veteran Menyambut HUT RI Ke-79

Ia memohon agar bangsa Indonesia terus dibantu untuk melahirkan berbagai prestasi unggul bagi putra-putri bangsa. Dengan demikian, kemerdekaan tidak hanya dikenang melalui upacara, tetapi diterjemahkan menjadi kerja dan capaian yang memberi manfaat bagi masyarakat.

Kedua, kerukunan sebagai kekuatan bangsa.

Dalam doanya, Menag menyebut capaian kerukunan sosial keagamaan sebesar 77,85 persen sebagai salah satu anugerah yang patut disyukuri. Angka tersebut, menurutnya, menjadi capaian tertinggi sepanjang sejarah bangsa.

Penyebutan kerukunan dalam doa kemerdekaan memiliki makna penting bagi Indonesia yang dibangun di atas keberagaman agama, suku, budaya, dan pandangan hidup. Kerukunan bukan sekadar suasana sosial yang perlu dipertahankan, melainkan salah satu fondasi yang memungkinkan bangsa bergerak maju tanpa kehilangan persatuan.

Karena itu, Menag memohon agar Indonesia dijauhkan dari fitnah, bencana, dan perpecahan yang dapat melemahkan sendi-sendi kekuatan bangsa.

Pesan ini menegaskan bahwa menjaga kemerdekaan tidak hanya berkaitan dengan mempertahankan kedaulatan negara, tetapi juga merawat kohesi sosial agar perbedaan tetap menjadi kekuatan, bukan sumber perpecahan.

Baca Juga  Warga Binaan Kemenkumham Malut Dipastikan Salurkan Hak Pilih di Pilkada

Ketiga, ketakwaan sebagai bekal menghadapi tantangan.

Menag menilai bahwa perjalanan Indonesia setelah 81 tahun kemerdekaan masih panjang. Tantangan yang dihadapi bangsa juga masih besar, sementara tanggung jawab yang harus ditunaikan semakin kompleks.

“Masih panjang jalan yang harus kami tempuh, masih besar tantangan yang kami hadapi, masih banyak tanggung jawab yang harus kami emban,” kata Menag.

Di tengah situasi tersebut, Menag memohon agar ketakwaan dan keluhuran niat ditanamkan kepada seluruh elemen bangsa. Nilai spiritual itu diposisikan sebagai bekal untuk menemukan jalan keluar dari berbagai persoalan.

Doa tersebut mengandung pesan bahwa pembangunan bangsa tidak semata membutuhkan kemampuan teknis, sumber daya, dan kebijakan yang tepat. Ia juga membutuhkan keteguhan moral serta niat yang luhur agar kemajuan tidak kehilangan arah.

Keempat, prestasi sebagai cara mengisi kemerdekaan.

Pesan mengenai prestasi muncul sejak awal doa ketika Menag memohon agar bangsa Indonesia mampu mengisi kemerdekaan dengan berbagai capaian unggul.

Kemerdekaan, dengan demikian, bukan garis akhir. Ia merupakan ruang untuk membuktikan bahwa pengorbanan para pendahulu dapat diteruskan melalui karya generasi masa kini dan masa depan.

Baca Juga  H-7 Lebaran, Jumlah Penumpang Angkutan Udara Meningkat Dampak Penurunan Harga Tiket Pesawat Domestik

Menag juga mendoakan para leluhur dan pahlawan bangsa yang gugur dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Penghormatan tersebut menjadi pengingat bahwa setiap capaian Indonesia hari ini memiliki jejak panjang pengorbanan generasi sebelumnya.

Rangkaian doa kemudian ditutup dengan harapan agar Indonesia menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur, yaitu negeri yang indah dan penuh keberkahan.

Menag menyandingkan cita-cita tersebut dengan ungkapan Nusantara, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem, kerta raharja. Sebuah gambaran tentang negeri yang makmur, tentram, dan sejahtera.

Empat pesan dalam doa tersebut akhirnya bertemu pada satu arah: menjadikan kemerdekaan sebagai amanah yang terus diisi. Syukur menjadi pijakan, kerukunan menjadi kekuatan, ketakwaan menjadi kompas moral, dan prestasi menjadi bentuk nyata pengabdian.

Pada usia 81 tahun, kemerdekaan tidak hanya dirayakan sebagai warisan sejarah. Ia kembali diletakkan sebagai tanggung jawab bersama. Untuk dirawat, diisi, dan diwariskan dalam keadaan yang lebih baik kepada generasi berikutnya.

 

News Feed