oleh

Bintang Sobat SMP Rangkul Talenta Calon Generasi Emas dari Wilayah Barat hingga Timur Indonesia

POLTEN.CO.ID – Program Bintang Sobat SMP (BSS) 2026 tidak berhenti pada pemilihan murid berprestasi. Lebih dari itu, program ini menjadi ruang pembelajaran yang membentuk karakter, kepemimpinan, dan kepedulian sosial agar para peserta mampu menjadi agen perubahan di daerah masing-masing, sekaligus mendukung lahirnya Generasi Emas Indonesia 2045.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa BSS merupakan awal perjalanan panjang bagi para peserta untuk terus bertumbuh. “Presiden mengingatkan untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah, untuk melahirkan Generasi Emas Indonesia 2045. Menjadi BSS bukan akhir dari perjalanan panjang kalian, tetapi awal dari perjalanan yang jauh lebih cemerlang. Peluang selalu ada, tetapi kalian harus selalu berpijak di bumi walaupun kalian adalah bintang-bintang,” ujarnya di Tangerang, Banten, Kamis (9/7).

Abdul Mu’ti juga membekali para finalis dengan prinsip 3 ’el’ sebagai bekal masa depan. “Jadilah anak-anak yang knowledgeable, yang memiliki wawasan dan pengetahuan luas. Kemudian jadilah anak-anak yang capable, yang terampil dan memiliki banyak kemampuan. Lalu tetaplah menjadi anak-anak yang humble, rendah hati dengan segala capaian yang dimiliki. Kuncinya adalah senantiasa belajar untuk meningkatkan kemampuan,” pesannya.

Baca Juga  Belajar Demokrasi Bersama Konrad Adenauer Stiftung, Jerman

Perwakilan duta, Andrew Arsya Mandala, murid SMPN 2 Padang, Sumatra Barat yang meraih Juara I BSS 2026, menyampaikan pengalaman dan kesan mendalam setelah mengikuti kegiatan ini. “Di sini, soft skills Andrew terasah mulai dari public speaking, cara memahami orang lain dan keberagaman. Serta yang paling saya ingat adalah saat berinteraksi dengan teman-teman yang keren dari seluruh Indonesia. Memorable banget,” ujarnya. Sepulang ke Padang, Andrew berkomitmen memperkenalkan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BASN) kepada teman-temannya agar semakin banyak anak menjadi agen perubahan.

Semangat yang sama juga dirasakan langsung oleh finalis asal Papua Tengah, Az Zahwa Aulya Putri Hendri, murid SMP Negeri 11 Mimika dan Jason Febrian Pasang, murid SMP Kristen Kalam Kudus Timika, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah. Bagi mereka, kunjungan ke Istana Merdeka menjadi pengalaman yang paling membekas.

Baca Juga  Wahyu Suparyono Diangkat Jadi Dirut Bulog Gantikan Bayu Krisnamurthi

“Menurut aku yang paling berkesan saat kami ke Istana Merdeka dan Istana Negara. Kami bisa melihat ruang-ruangan penting, mengetahui bagaimana suasana istana, bahkan diberi kesempatan berfoto di sana,” ujar Zahwa.

Sedangkan Jason menambahkan bahwa kebersamaan selama mengikuti BSS menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. “Teman-teman di sini baik-baik semua. Mereka saling mendukung dan saling berbagi cerita.”

Sepulang ke Papua, Zahwa ingin mengajak teman-temannya menerapkan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (KAIH) melalui cara yang lebih menarik. “Kalau hanya dipresentasikan, menurut saya akan membosankan. Saya ingin mengajak mereka lewat tantangan atau kegiatan yang menyenangkan agar mereka ikut menerapkannya.”

Sementara Jason bertekad menjadi teladan bagi teman sebaya. “Saya ingin menjadi role model bagi teman-teman.” Keduanya juga berkomitmen memanfaatkan media sosial maupun organisasi sekolah secara bijak untuk menyebarkan informasi positif.

Tak ketinggalan, Semangat serupa disampaikan Mesya Jama, finalis dari SMP Negeri 1 Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan. Baginya, mengikuti BSS menjadi pengalaman yang mengesankan karena ini kali pertama ia berkunjung ke Jakarta. “Saya banyak belajar tentang personal branding, kemampuan public speaking, dan cara bersosialisasi. Teman-teman di sini aktif dan keren sehingga membuat saya terinspirasi untuk terus berkembang,” terang murid kelas 8 ini.

Baca Juga  Pemkot Bekasi Berkomitmen Kendalikan Pencemaran Udara

Pelajaran yang paling berkesan yang didapat Mesya dari kegiatan ini adalah untuk tidak berhenti mencoba. “Motivasi yang saya ingat, kita tidak boleh berhenti sekarang. Kalau gagal bukan berarti kita tidak bisa mencoba lagi.” Sekembalinya ke Wamena, Mesya telah menyiapkan langkah nyata. “Saya akan aktif di OSIS dan mengajak teman-teman menerapkan budaya Rukun Sama Teman, Koding dan AI, Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, serta Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.”

Dari berbagai daerah, para peserta BSS 2026 pulang bukan hanya membawa pengalaman, tetapi juga tekad untuk menjadi penggerak perubahan. Melalui langkah-langkah kecil yang mereka lakukan di sekolah dan lingkungan masing-masing, benih-benih Generasi Emas Indonesia mulai tumbuh dari tangan anak-anak Indonesia sendiri.*

 

News Feed